2/9/11

Final mastering dengan T-Racks 3 Deluxe Mastering Suite


Layaknya semua proses yang dilakukan pada fase recording dan mixing, proses final mastering dari sebuah lagu memiliki banyak opsi dan alternatif, mulai dari cara dan prosedur bagaimana proses mastering tersebut dilakukan, tools atau software yang digunakan hingga selera sound engineer yang diaplikasikan kedalamnya. IK Media T-Racks 3 Deluxe mastering suite merupakan salah satu software yang banyak digunakan untuk keperluan ini. Software yang merupakan salah satu software mastering favorit saya ( disamping wave lab dan isotop ozone ), telah dilengkapi dengan komponen-komponen canggih seperti Linear Phase EQ, Opto dan Classic Compressor, serta Soft Clipper, yang diperlukan untuk melakukan proses mastering lagu secara professional.

Pada posting kali ini saya akan menguraikan cara-cara serta langkah yang biasa saya lakukan ketika melakukan mastering lagu menggunakan T-Racks 3 Deluxe (yang secara umum, juga merupakan langkah-langkah yang saya lakukan pada proses mastering menggunakan software lainnya), sebagai tips ataupun referensi bagi anda yang sedang terjebak dalam proses mastering lagu dan mulai kehilangan arah akan apa yang harus anda lakukan pada software yang anda gunakan :).


Langkah 1 : T-Racks Linear Phase EQ dan cara settingnya

Apapun software yang saya gunakan, saya lebih senang untuk memulai melakukan proses final mastering lagu dengan memasukkan EQ sebagai mata rantai pertama. Pada T-Racks 3 deluxe, EQ yang saya gunakan adalah T-Racks Linear Phase EQ. Kebiasaan saya untuk menggunakan EQ pada rantai pertama mastering lagu tersebut, dikarenakan keinginan saya untuk memfilter frekuensi low menggunakan low cut filter sebelum lagu tersebut memasuki compressor. Dengan urutan demikian, compressor nantinya akan memiliki kerja yang lebih ringan dengan hanya berkonsentrasi pada pemrosesan frekuensi mid dan high.

Konfigurasi low cut filter sendiri memang akan tergantung dari seberapa “nge-bass” lagu yang ingin dihasilkan, namun biasanya konfigurasi low cut filter dengan starting point sekitar 37-38 kHz merupakan konfigurasi umum yang digunakan lagu-lagu berbagai genre ( kecuali lagu tersebut memiliki elemen bass yang sangat berat seperti drum kick 808 atau deep analog bass ). Faktor lainnya yang harus diperhatikan pada low cut filter adalah bentuk kecuraman dari roll off yang dihasilkannnya. Pada T-Racks Linear Phase EQ, misalnya, saya dapat mengatur roll off dengan starting point 35-41 kHz dengan aman. Namun pada software EQ lain, starting point tersebut bisa saja membuat bentuk roll off yang terlalu curam, yang juga berati bahwa pemotongan frekuensi akan menjadi terlalu kasar. Berdasarkan kondisi demikian, maka anda dapat menganggap bahwa starting point 35-41 kHz adalah sebuah “guide line” yang nantinya akan mengalami penyesuaian bergantung jenis EQ yang anda gunakan.

Selama lagu yang saya mastering adalah lagu dengan hasil mixing yang sudah baik, selain dari konfigurasi low cut filter, umumnya tidak terlalu banyak konfigurasi lain yang saya lakukan pada EQ. Kalaupun beberapa frekuensi high memang harus dinaikkan, biasanya kenaikkan tersebut tidak lebih dari 5 dB. Jika pada kondisi tertentu, frekuensi low atau mid perlu di boosting, saya selalu memastikan bahwa pilihan “Linear Phase” pada EQ yang digunakan berada pada posisi aktif, agar warna atau karakter bawaan dari EQ tersebut dapat diminimalisir

Langkah 2 :T-Racks Opto Compressor cara settingnya

Ratio
Tujuan utama yang ingin dicapai oleh proses final mastering dari sebuah lagu adalah terjaganya kejernihan dan dinamika lagu tersebut. Untuk itu, saya selalu mengawali konfigurasi compressor denga ratio rendah, misalnya 3 : 1. Pada ratio yang rendah tersebut, umumnya compressor masih dapat menghasilkan suara yang relatif bersih.

Attack Time
Konfigurasi attack time harus dilakukan dengan sedikit hati-hati karena dapat berpengaruh pada kejernihan suara hasil kompresi. Konfigurasi attack time yang terlalu cepat akan membuat terciptanya sinyal-sinyal baru yang dapat menggangu sinyal dan dinamika lagu aslinya. Namun jika attack time terlalu lambat (misalnya diatas 55ms) akan membuat compressor malah sama sekali tidak bereaksi.
Konfigurasi attack time terlambat yang ada pada komponen T-Racks Opto Compressor adalah 50ms. Namun saya tidak pernah mengkonfigurasikannya diatas 45ms, karena jika attack time lebih lambat dari itu, maka kerja compressor tidak terasa berpengaruh. Sementara itu, attack time yang cepat memang terkadang harus dilakukan untuk mengontrol jenis suara-suara distorsi dan overdrive, dengan tujuan membersihkan lagu dari banyaknya sinyal yang mengalami peak. Namun pada dasarnya, seberapa cepat attack yang harus dikonfigurasikan akan sangat bergantung dengan ketelitian pendengaran anda.

Release Time
Untuk release time pada compressor, biasanya saya mengkonfigurasikaannya antara 83-105ms. Konfigurasi release time yang lebih lambat dari itu akan membuat sinyal-sinyal baru hasil kompresi terdengar semakin jelas dan semakin mengganggu.

Input level
Saat mengkonfigurasikan input level pada T-Racks Opto Compressor (pada T-Racks Classic Compressor disebut juga dengan input drive ), saya biasanya memonitor dan memastikan konfigurasi compressor tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi, dengan cara memperhatikan level dari VU meter. Umumnya saya menginginkan level rata-rata di VU meter ada disekitar -5 dB dan tidak mengalami penurunan level secara drastis hingga -10dB.
Sebagai alternatif, terkadang saya menukar T-Racks Opto Compressor dengan T-Racks Classic Compressor yang memiliki opsi stereo enhancement untuk menentukan mana yang lebih cocok digunakan pada lagu yang sedang saya mastering.


Langkah 3 : T-Racks Soft Clipper dan cara settingnya

Cara konfigurasi yang biasa saya lakukan pada komponen ini terhitung sangat simple. Yang pertama saya lakukan adalah memutar tombol gain dan tombol slope ke kiri secara penuh. Kemudian memutar tombol gain ke kanan secara bertahap untuk menaikkan gain sebesar mungkin, namun dengan tetap memonitor kejernihan suara yang dihasilkan. Saya akan berhenti memutar tombol tersebut pada point sebelum gain mulai terasa merusak kejernihan sinyal.
Setelah gain yang optimal didapatkan, langkah saya berikutnya adalah memutar tombol slope ke kanan secara bertahap hingga saya mendapatkan timbre suara yang saya kehendaki. Untuk beberapa kasus, menempatkan slope di point sekitar -6 biasanya menghasilkan effect saturation yang cukup enak didengar.


Tips tambahan untuk final mastering
Hasil mixing dan mastering yang baik memerlukan system sound monitoring yang baik pula. Dan untuk kepentingan tersebut, saya menyarankan anda untuk memiliki speaker monitor dengan sistem 2.1 ( 2 speaker, 1 subwoofer) yang telah ditempatkan secara benar. Anda dapat saja berpandangan skeptis mengenai hal ini, namun bagaimanapun, anda akan dapat merasakan perbedaan antara hasil mastering seseorang yang tidak menggunakan subwoofer dengan seseorang yang memiliki subwoofer pada saat melakukannya. Pada hasil mastering lagu yang tidak menggunakan subwoofer, dua alternatif yang mungkin terjadi adalah hasil mastering lagu dengan frekuensi bass yang terlalu berlebihan atau kebalikannya, lagu dengan frekuensi bass yang terlalu flat. Tips cara melakukan final mastering dengan T-racks diataspun memerlukan system sound monitoring yang dilengkapi subwoofer agar konfigurasi dapat dilakukan dengan benar. Terlebih karena setiap konfigurasi yang ada diatas hanya merupakan panduan konfigurasi mastering lagu secara umum. Detail dari konfigurasi-konfigurasi tersebut belum tentu cocok dengan kebutuhan lagu anda, jadi bagaimanapun, telinga anda yang akan menentukannya.

Happy Mastering
Andrian Roult

Artikel terkait